free page hit counter

Isi Liburan Puasa saat SMP dengan Bekerja, Khazalik Bisa Beli Celana Panjang Sendiri

Loading...

TANJUNGPINANG (suarasiber) – Ramadan dan seperti apapun suasananya akan selalu meninggalkan kenangan indah. Terlebih bagi anak-anak, karena Ramadan akan diakhiri dengan Idul Fitri.

Hari raya atau lebaran adalah masa-masa yang menggembirakan. Ada banyak kue, banyak lauk, ada uang dari sana sini dan yang terpenting ada baju, celana dan sepatu baru.

Tapi tidak semua anak bisa seberuntung itu. Tak sedikit anak-anak yang harus berjuang untuk mendapatkan celana baru atau baju baru atau sepatu baru.

Seperti yang dirasakan Khazalik yang dilahirkan 11 Agustus 1963 di Tarempa, Anambas, saat masih duduk di bangku kelas 2 SMP di Tambelan, Kabupaten Bintan.

Pada masa itu, Khazalik yang kini menjabat Ketua Partai Nasdem Kabupaten Bintan dan anggota DPRD Provinsi Kepri, harus merantau ke Tambelan mengikuti pamannya. Agar bisa bersekolah.

Merantau ikut saudara untuk bersekolah sudah dilakukannya sejak tamat dari SD di Tarempa, Kabupaten Anambas.

Dari Tarempa dia sempat masuk SMP di Tanjungpinang. Saat saudaranya dipindah ke Tambelan, dia pun ikut pindah. Di kota kecil inilah, Khazalik yang piatu sejak usia sekitar 10 tahun, punya kenangan indah saat Ramadan.

Dia sangat menginginkan punya celana panjang, untuk berlebaran. Dan, untuk pertama kalinya.

“Itu menjadi celana panjang pertama saya,” kata Khazalik sembari tertawa mengenang pengalaman itu di perbincangan dengan suarasiber.com belum lama ini.

Sebenarnya, bisa saja mantan Wabup Bintan 2010 – 2015 ini, minta belikan celana panjang ke saudaranya. Namun, dia merasa tak enak hati untuk memberatkan saudaranya.

“Waktu itu saya ingat ada kebun kelapa om di tepi pantai. Buahnya yang sudah tua sering jatuh sendiri.

Jadi, pas puasa (Ramadan) itu saya terpikir untuk mengumpulkan kelapa-kelapa yang jatuh itu,” ujar Khazalik yang biasa disapa Alex di lingkungan terdekatnya.

Pada masa itu, setiap bulan puasa adalah masa liburan sekolah. Jadi, Alex punya waktu lebih dan memanfaatkannya untuk hal bermanfaat.

Lokasi kebun yang berjarak sekitar 1 jam berjalan kaki melalui semak belukar pun ditempuhnya. Sendirian.

Sendirian pula dia mengumpulkan buah kelapa kering yang jatuh sendiri. Dia tak pandai memanjat pohon kelapa. Apalagi, tinggi pohon kelapanya bisa belasan meter.

Jadi yang jatuh saja yang dikumpulkan.

“Kadang dapat 5 butir. Kadang 10 butir. Dikumpulkan dulu,” sebutnya.

Setelah cukup banyak buah kelapa kering itu pun mulai diolahnya. Tahap awal buah-buah kelapa itu harus diasapi terlebih dulu.

Agar bisa diasapi harus dibuat para-para yang tingginya sekitar setengah meteran. Karena buahnya banyak maka para-paranya juga harus cukup luas.

“Kenapa diasapi sebelum kelapanya dipecah? Supaya buahnya tidak susah dicongkel lagi,” terangnya.

Kopra, itu produk yang dihasilkan dari jerih payah Alex. Setelah jumlahnya cukup, kopra itu dibungkus dan dipanggulnya ke tempat penampungnya.

Dari kopra yang diperolehnya dengan mengisi waktu libur sekolah di bulan puasa, Alex, akhirnya bisa membeli celana panjang.

Bukan cuma sehelai tapi dua helai celana panjang sekaligus. Bahagianya tak bisa dilukiskan dengan kata-kata.

Hingga puluhan tahun kemudian, rasa bahagia itu masih tetap terasa. Kebahagiaan saat pertama kali punya celana panjang. Dan, dari hasil keringat sendiri. (sigit rachmat)

Bagikan berita
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Loading...