Sabtu, 29 November 2025

Ini Aturan Penangkapan Rajungan oleh Warga Pelantar Kampung Bugis

Tayang:


Menyebut Swimmer Crab atau kepiting perenang mungkin asing di telinga. berbeda kalau kita menyebutnya dengan nama yang lebih lazim, yakni rajungan.

Memiliki morfologi secara umum yaitu rajungan berbeda dengan kepiting bakau (Scylla serrata). Rajungan (Portunus pelagicus) memiliki bentuk tubuh yang lebih ramping dengan capit yang lebih panjang dan memiliki berbagai warna yang menarik pada karapasnya.

Masyarakat di daerah sekitar perairan Kampung Bugis sudah membatasi penangkapan kepiting jenis rajungan. Penangkapan rajungan minimal berukuran lebar karapas lebih 10 cm yang sudah ditetapkan oleh Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia Nomor 1/ Permen-KP/2015 tentang Penangkapan Lobster (Panulirus spp.), Kepiting (Scylla spp.), dan Rajungan (Portunus Pelagicus spp,).


Rajungan yang masih berukuran di bawah 10 cm dan bertelur dilarang untuk diambil. Hal ini dikarenakan agar rajungan tersebut tetap terjaga kelestariannya.

“Kami di sini para nelayan kampung bugis sudah melakukan penangkapan rajungan sesuai dengan ukuran yang telah ditetapkan,” jelas Jamhari, salah seorang nelayan Kampung Bugis.

Hasil tangkapan akan disortir kembali oleh nelayan sesuai ukuran yang sudah ditentukan, apabila ukuran rajungan tidak sesuai standar maka akan dilepas kembali.

Kepiting rajungan yang sedang bertelur apabila sudah terlanjur ditangkap oleh nelayan akan tetap dijual kepada pengepul (toke). Tetapi, pengepul akan menyortir kembali kepiting tersebut dan apabila terdapat kepiting yang sedang bertelur maka akan dilepas kembali oleh pengepul.

“Hasil penangkapannya sih gak tentu, biasanya sehari paling banyak bisa 10 sampai 15 kilo yang bisa dijual ke pengepul dan paling sedikitnya ya hanya bisa untuk membeli minyak saja,” ujarnya lagi.

Hasil yang telah disortir oleh pengepul biasanya akan dijual ke perusahaan yang ada di daerah tersebut.

Saat ini, rajungan sudah mulai dikalengkan dan diekspor ke luar negeri. Rajungan terus dicari dan ditangkap habis-habisan dikarenakan harga rajungan yang cukup tinggi. Akibat dari eksploitasi itu pula, pemerintah mulai membudidayakan rajungan, agar penangkapan di alam semakin berkurang.

Hal ini sebenarnya sudah menjadi keharusan bagi para nelayan di Indonesia untuk pandai memilah dalam penangkapan rajungan yang sesuai dengan aturan yang ditetapkan. ***

Artikel ini untuk tugas kuliah:
Penulis: Kurniawan Ramadhan Lubis, NIM: 170254241019, Jurusan: Ilmu Kelautan, Fakultas: Ilmu Kelautan dan Perikanan (Universitas Maritim Raja Ali Haji)

Loading...

BAGIKAN BERITA INI

spot_img

Update

spot_img

BACA JUGA
Berita lainnya

Ledakan Bom di SMAN 72: Alarm Serius bagi Keamanan dan Hukum di Dunia Pendidikan

Kasus ledakan bom rakitan yang mengguncang Sekolah Menengah Atas...

Tanjungpinang dan Tangisan yang Tak Boleh Kita Abaikan

SEMINGGU ini saya tidak berfungsi dengan baik. Ada kerawanan...

Di Balik Keheningan yang Menggantung: Luka Sunyi Tanjungpinang

BEBERAPA waktu belakangan, Tanjungpinang mendadak sering diwarnai kabar duka...

Dapur Rahasia di Balik Program MBG: Sabotase atau Salah Kelola?

ANAK-anak itu cuma ingin makan siang.Bukan ikut eksperimen. Bukan...