free page hit counter

Tahukah Anda Apa Itu Read Aloud Day?

TANJUNGPINANG (suarasiber) – Setiap 1 Februari, setidaknya sejak tahun 2017 silam, dunia melakukan apa yang disebut World Read Aloud Day. Tahukah Anda apa maksudnya?

JIka diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia, artinya lebih kurang hari membaca lantang atau nyaring sedunia? Maksudnya teriak-teriak gitu? Seperti itulah, meski tidak harus pakai teriak-teriak. Berbeda dengan yang selama ini kebanyakan dilakukan orang saat membaca, dalam diam.

Pengaruh membaca keras rupanya cukup kuat untuk tumbuh berkembangnya anak-anak kita. Bahkan Kementerian Pendidikan RI pun mengadakan kegiatan serupa. Seperti ditulis di Instagram @kemdikbud.ri tanggal 26 Oktober 2019.

read aloud day
Sejumlah negara merayakan World Read Aloud Day setiap 1 Februari. Foto – casadetomasa.wordpress.com.

Pada hari itu di Perpustakaan Kemdikbud berlangsung kegiatan Read Aloud Day yang dilaksanakan oleh Komunitas Readingbugs. Pada tahun ini, World Read Aloud Day akan dilakukukan di 173 negara.

Komunitas Readingbugs berawal pada tahun 2007 setelah membaca buku Read Aloud Handbook. Saat ini Reading Bugs terus mendorong orang tua untuk membacakan nyaring kepada anak-anak.
.
Pada hari itu, juga dilakukan penandatanganan kesepakatan untuk #readaloudindonesia dan merayakan World Read Aloud Day di bulan Februari 2020.
.
Read Aloud mendapatkan perhatian banyak peneliti di seluruh dunia. Seorang praktisi literasi, Kristin O’Keefe, pernah menulis pengalamannya di washingtonpost.com. Dia menuturkan saat kecil, ibunya membacakan dengan lantang buku Maurice Sendak yang berjudul “Where the Wild Things Are”.

Momen ini menurutnya menjadi hal yang paling diingat selama hidupnya. Berawal dari kenyataan itulah Kristin akhirnya menekuni dunia literasi.

Kebiasaan membaca keras ini pun dilanjutkan olehnya, juga suaminya kepada anak-anak di rumah. Ia dan suaminya bergantian membaca buku-buku cerita. Menurut Kristin, saat anak anaknya tumbuh dewasa minat baca mereka sangat tinggi.

Penelitian juga pernah dilakukan Rothlein dan Meinbach pada 1993. Menurut mereka membaca nyaring dapat meningkatkan keterampilan berbahasa lainnya, membantu perkembangan anak mencintai buku, dan membaca ceritera sepanjang hidupnya. Anak-anak cenderung meniru dan mengikuti jejak orang dewasa.

Pendapat lain yang isinya mendukung teori ini dikemukakan Cox pada 1999. Cox mengatakan membaca nyaring untuk anak-anak yang dilakukan setiap hari merupakan sesuatu yang penting untuk mengajar mereka menyimak, berbicara, atau menulis.

Cerita yang disampaikan secara nyaring oleh orang tua akan membawa anak dalam perkembangan bahasa yang baik. Ini terjadi melalui perkembangan kosa kata, semangat membaca, dan sukses dalam belajar membaca permulaan.

Terlebih lagi, membaca dengan suara nyaring dapat mempengaruhi area produktivitas yang berbicara di dalam otak. Pastinya ini akan dapat membuat otak lebih sehat dan menjadi lebih aktif. Luar biasa bukan?

Bagi muslim, membaca nyaring juga diriwayatkan dalam hadis Tirmidzi, Abu Dawud, dan Hakim. Membaca dengan nyaring atau keras seperti bersedekah. Anjuran tersebut juga berlaku ketika membaca kitab suci Alquran.

“Orang yang membaca Alquran dengan suara keras adalah seperti orang yang bersedekah terang-terangan, dan orang yang membaca Alquran dengan suara perlahan adalah seperti orang yang bersedekah dengan sembunyi-sembunyi.” (HR. Tirmidzi, Abu Dawud, dan Hakim).

Nah saatnya untuk mulai membiasakan diri membaca dengan suara nyaring di depan anak-anak kita. Dan mari sambut World Read Aloud Day tahun depan. (man)

Bagikan berita
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •