free page hit counter

Asyiknya… Naik Kereta Gantung Keliling Pulau Bintan

Tak banyak yang tahu jika Taman Mini Indonesia Indah punya kereta gantung yang mulai beroperasi sejak 1975 dan sampai sekarang masih menjadi idola. Foto – instagram.com/irmakristanti69

KEINDAHAN pesisir dan pantai-pantai di Pulau Bintan sudah kesohor ke seluruh dunia. Pasirnya putih, halus, dan lembut, baik yang di kawasan Pantai Trikora maupun di kawasan Lagoi. Jauh lebih baik dibandingkan pasir di Pantai Kuta, Bali.

Itu baru untuk kawasan pesisir yang berpasir putih, ada lagi kawasan pesisir Pulau Bintan yang hijau dengan hamparan pohon bakau. Dan, menyejukkan mata. Seperti di sekitar Teluk Bintan.

Sebagian kawasan pesisir pantai ini masih bisa dinikmati oleh warga tempatan atau wisatawan lokal. Namun, sebagian lainnya hanya bisa dinikmati wisatawan papan atas. Seperti di kawasan wisata Lagoi, kecuali di sekitar Lagoi Beach.

Karenanya, untuk menikmati pemandangan indah di kawasan yang sudah eksklusif hanya bisa dari ketinggian. Naik kereta gantung (cable car) atau gondola, adalah pilihan terbaik.

Sama seperti naik kereta gantung dari daratan Singapura ke Pulau Sentosa atau dari Kuala Lumpur, Malaysia ke Genting Highland.

“Memang asik sekali lihat pemandangan dari kereta gantung. Dan, jangan lupa bawa kamera atau ponsel yang resolusi kameranya bagus. Ada banyak obyek foto indah di pesisir Pulau Bintan ini,” sebut sahabat saya, Andro dalam suatu perbincangan.

Ke Genting Highland Naik Gondola

Kereta gantung di London. Foto – instagram.com/transportforlondon

Kami pun bertukar kata bercerita pengalaman masing-masing naik kereta gantung. Andro pun bercerita pengalamannya ke Genting Highland dari Kuala Lumpur, Malaysia.

Begitu asiknya hingga ketika sampai di Genting, dia langsung pindah naik kereta gantung yang kembali ke Kuala Lumpur.

“Ha ha ha… Saking asiknya. Begitu sampai naik lagi yang ke el (KL, red). Dari ke el naik lagi yang Genting. Baru berehat di sana,” ucapnya.

Andro pun bertutur, “Kalau panjang umur kita naik kereta gantung dari Dompak, ya. Dari sana kita pelesiran keliling Pulau Bintan.”

Apalagi, imbuhnya, menyaksikan pantai-pantai di Lagoi dari kereta gantung. Saya membantah opininya, karena siapapun tahu pantai-pantai di saja sifatnya eksklusif.

Akan tetapi sahabat saya ini menolak pendapat itu. “Kita kan naik kereta gantung, dan tak perlu turun ke pantai di sana. Lagian, wilayah udara untuk laluan kereta gantung tidak termasuk yang dikuasai para investor itu.”

Kalau yang tanah dengan airnya (Waduk Lagoi), ujar Andro, memang iya dikuasai investor pariwisata.

Udara Masih Dikuasai Negara

Saya terdiam mendengar ucapannya. Tapi, dalam hati membenarkan juga pendapatnya. Meski juga ragu, karena tak tahu apakah udara di wilayah itu hanya boleh dinikmati wisatawan kelas atas.

Karena tak tahu harus jawab apa, saya pun mengalihkan ke soal anggaran pembangunan kereta gantung di Pemda. Lagi-lagi sahabat saya ini menolak pendapat itu.

“Ini bukan soal anggaran bro! Ini cuma soal mimpi. Para pengelola daerah ini punya mimpi, tak? Mimpi bikin kampung kita ini punya kereta gantung,” tukasnya.

“Kalau cuma mimpi, anak kecil pun bisa,” jawab saya.

Makanya, jawabnya lagi, mestinya punya mimpi dulu. Habis mimpi baru disusun langkah-langkah, agar mimpi itu tak cuma jadi impian.

“Kalau anak-anak yang mimpi, ya, habis begitu saja. Beda kalau pengelola daerah yang mimpi. Namanya saja sudah pengelola daerah, kan?”

Sekali lagi saya membantah, dan menjawab anggaran akan jadi kendalanya.

Tiga Pemda Tiga Anggaran Bernilai Triliunan Rupiah

“Bro…bro… Di Pulau Bintan ini saja ada tiga pengelola daerah. Ada Pemprov Kepri, ada Pemko Tanjungpinang, ada juga Pemkab Bintan,” sebutnya.

“Gandenganlah, tapi satukan dulu mimpinya. Mimpi yang untuk semua warga di Pulau Bintan, dan sekitarnya. Jangan cuma mimpi untuk diri sendiri,” sebutnya sembari tersenyum.

Soal anggaran yang selalu saya jadikan alasan buat membantah, disebut Andro cuma alasan pembenar saja. Untuk alasan tak mampu. Karena, jika dijumlahkan anggaran di tiga Pemda itu jumlahnya hingga triliunan rupiah.

Andro, mengatakan, “Bro kan sebenarnya tahu berapa banyak anggaran yang untuk membangun, kan? Palingan juga 20-an persen dari total anggaran. Selebihnya ya untuk operasional pemda sendiri, kan?”

Anggaplah, imbuh Andro, yang tertulis itu sekitar 50 persen habis buat gaji, dan tunjangan. Itu belum termasuk untuk makan, untuk minum, untuk tiket pesawat, untuk bill kamar hotel, tiket kapal, sewa mobil, dan lain-lain.

Juga untuk beli pin emas, beli baju jas, dan segala jenis seragam. Walau pun sudah ada gaji, dan segala jenis tunjangan. Yang lebih dari cukup untuk beli pin emas atau jas sendiri.

“Jadi, sisa 20-an persen yang digunakan langsung untuk pembangunan sudah sangat besar, bro,” tukas Andro.

Bermimpilah Setinggi Mungkin untuk Masyarakat

Kereta gantung di Pegunungan Alpen, Swiss. Foto – instagram.com/alpenliebe_official

Nah, tambah Andro lagi, “Kalau mimpi mereka cuma sebatas bisa jalan-jalan gratis keliling Indonesia atau keluar negeri. Maka, sampai lebaran kodok pun, tak akan pernah ada kereta gantung di Pulau Bintan.”

Tidak ada yang tidak mungkin, tukas Andro, apapun bisa dilakukan untuk masyarakat. Asalkan, dilakukan dengan niat yang baik.

“Bro tentu tahu, apa makna man jadda wajada. Sesiapa yang yang bersungguh-sungguh, dia akan berhasil. Bersungguh-sungguh berarti disertai dengan tekad kuat. Bukan cuma di atas kertas saat pidato,” terangnya.

Saya cuma diam dipidatoi seperti itu. Ada harapan, karena apa yang disebut Andro memang benar. Ada juga skeptis, karena ada gap besar antara harapan dengan fakta kondisi kekinian.

Namun, asa tak boleh punah. Karena asa yang membuat hidup jadi semakin hidup. Semoga saja ke depannya akan muncul para pemimpin dari generasi milenial, yang punya impian milenial.

Tak cuma mimpi sebatas membuat gondola untuk berkeliling Pulau Bintan. Mimpi yang langsung patah dengan alasan anggaran. (sigit rachmat)

Bagikan berita
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •