free page hit counter

Nikmatnya Menikmati Kampung Pelangi di Kampung Bugis

Loading...

Pelantar yang mengular di Kampung Bugis, Tanjungpinang itu sebenarnya biasa saja. Namun saat seluruh permukaan pelantar dihiasi cat warna-warni, mengitari rumah-rumah warga yang juga penuh warna, jelas sangat berbeda.

Sigit Rachmat  – Tanjungpinang

Kampung Bugis kini semakin terkenal. Apalagi sejak dijadikannya kampung ini sebagai kampung pelangi. Ditambah pelantar utama yang di sana berdiri tegak tugu wisata yang bisa berfungsi sebagai taman santai.

Sangat gampang menemukan ikon wisata baru di Tanjungpinang ini. Masuk saja ke Kampung Bugis, lalu tanyakan kepada warga. Dengan telunjuk jari saja akan sampai ke Kampung Pelangi. Tinggalkan saja kendaraan roda empat di tepi jalan kampung, tenang saja anak-anak muda yang menjadi tukang parkir akan menjaganya.

Bukan kehabisan warna cat yang sama, memang sengaja dicat warna warni karena ini Kampung pelangi. f-nurali mahmudi/suarasiber

Kalau membawa sepeda motor bisa masuk melewati pelantar kecil yang panjangnya kira-kira 200 meteran. Di ujung sana ada area parkir yang luas. Dibangun di atas tiang-tiang yang bagian bawahnya menyentuh dasar laut.

Tempat parkir ini sekaligus pintu masuk ke tugu wisata Kampung Pelangi. Yang menyambut para pengunjung di tempat ini adalah sejumlah pedagang. Makanan khas Melayu bisa dibeli di sini. Para pedagang mengambil sisi kanan dan kiri jalan masuk lokasi utama tempat wisata yang selalu ramai setiap liburan ini.

Lokasi utama Kampung Pelangi, ada tugu menjulang dengan tulisan penanda nama wilayah. f-sigit rachmat/suarasiber

Selanjutnya, hanya warna-warni yang menyapa pengunjung. Jangan berpikir mengapa pelantarnya tidak rata. Di beberapa bagian terlihat lebih tinggi. Ada alasannya mengapa dibuat seperti itu. Sengaja, bukan kelalaian.

Langkahkan saja kaki melintasi pelantar ini, dan akan ditemukan jawabannya ketika tiba-tiba perahu warga hilir mudik melewati bagian bawah pelantar yang posisinya dibuat lebih tinggi tadi. Kalau tingginya dibuat rata, bisa-bisa kepala warga yang mengemudikan sampan atau perahu terantuk beton pelantar.

Bagian utama tempat ini adalah bundaran. Disebut demikian karena memang bundar. Namun ada rongga di empat sudut. Selain itu, adalah jalan yang bisa dilalui. Mengingat seluruh pelantar dan tempat tugu wisata kampung Pelangi ini dibangun di atas air, perancangnya sudah memikirkan soal keselamatan.

Baca Juga :

Kader Demokrat Tanjungpinang Kecam Perusakan Bendera Partai

Bupati Anambas: Ikut Tes Saja, Soal Lulus atau Tidak Itu Nomor Dua

Lima Armada Dikerahkan Padamkan Kapal Terbakar dan Evakuasi Kru

Kalau memang ada yang terjatuh ke laut, kemungkinan besar yang bersangkutan memang ingin membuat sensasi. Pasalnya sepanjang pelantar dibuat, di kedua sisinya dipasang pagar pengaman. Semuanya warna-warni.

Setiap warna disapukan pada bentuk atau bidang berbeda. Ada yang dibuat lingkaran, segitiga, kotak, lonjong, bujursangkar dan bentuk lain.

Tepat di tengah-tengah pelantar utama, sebuah tugu menjulang tinggi. Lalu deretan huruf-huruf yang terpampang di atasnya dapat dibaca dengan jelas: Kampung Bugis, yang semua ditulis dengan huruf kapital. Ada bangku-bangku yang disediakan.

Biarkan si kecil bermain, sementara yang lebih tua duduk santai di bangku sekitar tugu. f-nurali mahmudi/suarasiber

Dari sini, menghadaplah ke arah jalan kampung sebelum masuk pelantar penghubung. Rumah-rumah warga warnanya seperti kepak sayap kupu-kupu. Bukan hanya atapnya saja yang dicat penuh warna. Sampai ke dinding-dindingnya.

Jangan mengklaim penuh warna hanya milik kaum milenial, kids zaman now. Suarasiber.com yang tegline-nya Situs Berita Zaman Now sore itu, Sabtu (15/12/2018) berkali-kali berpapasan dengan pengunjung yang usianya tak lagi muda.

Lorong cinta penuh warna di Kampung Pelangi. f-sigit rachmat/suarasiber

Jelas anak-anak muda menjadi pengunjung dominan Kampung Melayu. Anak-anak di kampung ini bangga dengan pesona warna yang ada. Segerombol dari mereka sore itu duduk santai di bawah bangunan beratap di tengah pelantar penghubung.

Argiantara, Ari, Didi dan Yoga mungkin sudah ratusan kali atau lebih menatap rumah-rumah orang tua mereka yang dicat warna warni. Toh tiada rasa bosan.

Cukuplah sebagai tempat mendapatkan bekal ringan menyusuri Kampung Pelangi. f-nurali mahmudi/suarasiber

“Senang, bangga, karena kampung kami kini dikunjungi banyak orang,” ujar Argiantara.

Banyaknya pengunjung juga rezeki bagi Siti, yang menjajakan minuman ringan. Bersama anaknya, perempuan berkerudung ini ramah menawarkan dagangannya.

Sore semakin dekat, masih banyak pengunjung belum merasa penat, mereka menatap warna warni kampung dengan lekat, berswafoto untuk dikirimkan ke teman-teman dekat, atau diunggah ke instagram sebagai pengingat. Nikmati saja keramahan warga, siapa tahu ada kenangann tak terduga.

Selamat datang di Kampung Pelangi. ***

Bagikan berita
  • 465
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Loading...