free page hit counter

Di Balik Jeruji Saya Mendekatkan Diri kepada Ilahi

Loading...

Maafkan saya, Bang. Saya salah, tidak mendengarkan apa yang Abang nasihatkan. Suatu saat saat saya keluar, saya ingin kembali dekat dan berdiskusi banyak hal kepada Abang.

Redaksi – Tanjungpinang

Ishiki Ogawa, siang itu duduk santai di teras samping masjid Lapas Khusus Narkotika Kelas IIA Tanjungpinang, Kepri. Boleh dikata, sebelumnya ia nyaris tak pernah mengenakan pakaian seperti hari itu.

Bajunya koko warna cokelat tua. Ada hiasan sulam benang putih di kerahnya. Sarung yang tak lagi baru, warnanya memudar, menutupi bagian bawah tubuhnya. Ia berhadapan dengan suara siber yang diberi akses khusus oleh Kalapas, Misbahuddin, untuk mengelilingi bagian dalam Lapas yang terletak di Gunung Kijang, Bintan.

Sebuah penyesalan membukit di hatinya. Sebagai perantau, ia seharusnya sudah menikmati kehidupan dengan pekerjaan yang hasilnya mencukupi hidupnya. Di Tanjungpinang, ia memiliki seseorang yang dituakan, senantiasa memberikan nasihat bijak.

“Namaun mengapa saat itu saya tak mendengarkan kebaikan yang disampaikannya langsung ke saya, kebaikan yang saya dengar setiap saat,” kata Ogawa, sambil menunduk.

Lewat suarasiber, ia menitipkan isi hatinya yang ditulis redaksi dengan gaya bertutur. Beginilah ungkapan hatinya.

Saya ingat, Abang melarang saya untuk dua hal saja, jangan berjudi, jangan terlibat narkoba. Tetapi saya adalah manusia biasa, apalagi jiwa muda, ingin mencoba sesuatu yang jelas-jelas Abang larang.

Empat tahun saya divonis sama hakim, bagaikan petir yang meledak persis di dekat saya. Seolah olah saya berdiri di atas bukit, suaranya keras. Saat itu juga saya menyadari harus kehilangan pekerjaan dan masa depan yang mulai tertata membias.

Kini sudah setengah waktu lebih saya menjalani masa hukuman. Mungkin Abang tak pernah tahu, karena kita terpisah tembok tinggi. Tembok dengan pengamanan ketat yang membatasi kebaikan dan kejahatan. Setidaknya begitulah anggapan banyak orang, Bang.

Mohon jangan dihakimi dengan anggapan itu. Saya dan juga teman-teman bukanlah orang jahat, kami hanya tersesat, dan berilah kami kesempatan bertobat.

Semuanya sudah telanjur, Bang. Sekadar Abang tahu, justru di penjara saya terusik oleh ketidaknyamanan batin. Memuncak. Membuat sesak. Alhamdulillah, saya lari ke Tuhan.

Saya diberi kesempatan sebagai marbot masjid Lapas, Bang. Tempat dan bangunan yang dahulu saya anggap biasa. Lewat di depannya. Hanya melintas. Bahkan saat azan pun saya tak pernah tersentuh untuk berhenti, mengambil wudu, membasuh kulit lalu menyerahkan diri kepada-Nya.

Saya belajar mengaji, dipinjami buku oleh Kalapas, juga buku perpustakaan. Tuhan yang tak tampak, namun kehadirannya sekarang sangat terasa di hati yang paling dalam. Semoga dengan cara ini saya mengikis segala salah.

Saat dahi ini menyentuh halus kain sajadah, menitik air mata saya, Bang. Saya ikhlas menjalani hukuman ini, karena ada sisi hidup yang kini mengisi. Saat kedua tangan menengadah, saya meminta maaf setulus jiwa. Saya berdoa untuk Abang selalu diberikan keselamatan dan segala doa baik.

Dahulu, di alam bebas saya hanya mengingat dunia. Sekarang, saat tubuh terkurung oleh dinding penjara, rasanya tak ada penghalang bagi saya. Tuhan hadir di segala tempat. Tuhan ada di mana saya ada. Tuhan ada di nafas saya.

Kalau Abang membaca ini, saya berharap suatu saat kelak saya hadir di depan Abang. Dan Abang masih menerima saya. Semoga Allah SWT memberikan kesempatan kita kembali sebagai saudara.

Saya merindukan nasihat Abang. Kemarahan Abang yang saya sadari benar semua. Dan saya menangis mengingatnya. (nurali mahmudi)

Loading...