free page hit counter

Telur Semut Rangrang dan Kisah Haru Kakek 75 Th

TANJUNGPINANG (suarasiber) – Telur semut rangrang atau biasa disebut kroto merupakan benda yang banyak dicari pemilik burung pekicau piaraan. Jika di Jawa, beternak semut rang rang bukan hal aneh, namun di Tanjungpinang agaknya belum ada yang melakukannya.

penampung kroto
Mbah Miharjo dan Jun Kolibri yang menampung kroto hasil kerja keras sang kakek. Foto – machfut/suarasiber

Kalaupun ada yang menekuni jual beli telur semut rangrang hanya sebatas mencarinya dihutan. Hal inilah yang dilakukan Mbah Miharjo, lelaki yang usianya sudah 75 tahun tetapi masih semangat. Apalagi kalau menemukan sarang dengan ratu semut rangrang di dalamnya.

Apa yang dilakukannya benar-benar tak menunjukkan ia sudah tua. Perantau asal Cilacap, Jawa Tengah, ini dengan santai menjolok sarang tadi untuk merontokkan telur rangrang.

Mbah Miharjo membuat sendiri galahnya, agar bagian atas bisa berfungsi sebagai penampung kroto. Jadi manakan burung ini tak akan tercecer di tanah meski cara mengambilnya disentak-sentak ke sarangnya di dedaunan pohon.

Berkilo Meter untuk Telur Semut Rangrang

telur semut rangrang
Kroto yang baru diunduh dijualnya kepada penampung. Foto – machfut/suarasiber

Jangan dianggap mudah mencari semut rang rang di Tanjungpinang. Sebagai ibu kota sebuah provinsi, pembangunan mengorbankan banyak hal, termasuk pepohonan tempat semut rang rang membuat sarang.

“Semakin lama hutan yang tersisa tak banyak. Makanya tak banyak yang mau menekuni usaha seperti ini,” tutur Mbah Miharjo kepada suarasiber, kemarin.

Tak jarang lelaki ini harus menempuh perjalanan berkilo-kilometer hanya untuk menemukan sarang semut rangrang yang ada telurnya. Suatu saat ia akan kembali ke pohon yang pernah dijolok sarang krotonya berharap ada sarang baru dibuat. Namun hal itu butuh waktu lama.

Agar permintaan kroto bisa dipenuhi, tak ada jalan lain dengan berjalan berkilo-kilometer sambil mengawasi pepohonan.

Entah sudah berapa banyak kilometer dihabiskannya di Tanjungpinang untuk mencari kroto. Ditanya mengapa tak budidaya semut rangrang, Mbah Mihajro tersenyum kecil.

Lalu ia bercerita mengapa di usianya yang tak lagi muda masih bekerja keras seperti itu.

Tak Ingin Merepotkan Anak

semut rang rang
Mbah Miharjo menunjukkan peralatannya. Foto – machfut/suarasiber

Mbah Miharjo bukanlah lelaki tanpa keluarga di Tanjungpinang. Ia memiliki beberapa anak dan sampai sekarang masih tinggal bersama anak sulungnya di Jalan Cenderawasih, Batu 8 Atas, Tanjungpinang.

Kesehariannya sebagai pemburu sarang untuk mengunduh telur semut rangrang justru menurutnya wajib disyukuri. Mbah Miharjo bersyukur diberi kesehatan, anak-anaknya mapan bersama keluarganya, daripada berdiam diri di rumah, bukan tipenya.

“Anak-anak saya tidak pernah merasa terbebani dengan saya, tetapi saya memang tak ingin hari-hari itu tanpa kegiatan. Alhamdulillah dari jualan kroto ini bisa buat beli sesuatu atau jajan cucu,” katanya.

Justru kalau ia tak berolahraga dengan caranya itu, badannya terasa pegal. Sementara jika berangkat mencari ratu semut rangrang dan menjolok krotonya, ia merasa sehat. Pertama, ia harus jalan kaki jauh. Lalu membawa serta peralatan yang dipikulnya.

Intinya, kata Mbah Miharjo yang masih memegang teguh filosofi Jawa ini, sebisa mungkin hidup tidak merepotkan orang lain. Selalu menyukuri rahmat Allah.

Musuh Berburu Telur Semut Rangrang … Hujan

budidaya semut rangrang

Peralatan tempur Mbah Miharjo memang hanya berupa galah. Namun panjangnya bila disambung-sambung bisa sampai 7 meter. Hal ini berguna ketika ia harus menjolok kroto di atas pepohonan yang tinggi.

Ia juga tahu kroto adalah esktra puding atau extra fooding yang kaya gizi dan protein. Sangat bagus jika diberikan ke burung pekicau.

“Menurut pemilik burung yang membeli kroto, katanya makanan ini juga menambah daya tahan burung, lincah dan suaranya lantang,” akunya.

Musim penghujan adalah masa di mana Mbah Miharjo akan banyak beristirahat di rumah. Bukannya pada musim ini semut rang rang tidak bertelur, melainkan jika kena air cepat busuk. Sementara proses mengunduhnya di alam bebas.

Sudah empat tahun lamanya Mbah Miharjo menekuni usahanya ini. Dari harga satu kilogram kroto masih Rp40 ribu hingga saat ini mencapai Rp100 ribu. “Alhamdulillah, rezeki Allah kepada saya melalui telur semut rangrang.” (mft)

Bagikan berita
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •