free page hit counter

Puluhan Jam hanya Bisa Terbaring

TANJUNGPINANG (suarasiber) – Puluhan jam melayari lautan yang bergelombang bukan pekerjaan mudah. Apalagi di musim angin kencang seperti sekarang. Siapapun akan oleng dibuatnya, kecuali yang sudah terbiasa.

Kalau sudah oleng alias mabuk laut, jangankan untuk makan, dan minum, sekedar bisa berdiri tegak pun susah. Hanya terbaring yang bisa dilakukan selama perjalanan antara 24 jam – 28 jam.

Bagi yang mampu menyewa kamar kru kapal Pelni, bisalah berbaring agak nyaman. Sedangkan yang lainnya akan berbaring di segala tempat.

“Tak ada yang bisa dibuat, buat berdiri saja pun tak bisa. Padahal sudah makan obat antimabuk,” kata Ujang, warga Tanjungpinang yang kerap bepergian ke Tambelan ke suarasiber.com, kemarin.

Walau tidak mudah, namun hal itu harus dijalani oleh siapapun yang akan dan dari Tambelan. Sebuah kecamatan di Kabupaten Bintan, Provinsi Kepulauan Riau, yang terletak di Laut Natuna (dulu Laut China Selatan).

Secara geografis, Kecamatan Tambelan yang pasir pantai kepulauannya menjadi tempat bertelur penyu, dan hingga kini masih dijarah, lebih dekat ke Kalimantan Barat. Namun, secara historis kepulauan ini adalah bagian dari Kerajaan Riau Lingga.

Subsidi Harga Tiket dari Kementerian Perhubungan

Sulitnya transportasi ke Tambelan, sudah berlangsung selama ratusan tahun. Sejak zaman kerajaan hingga zaman republik sekarang ini.

“Kami jelas sangat bahagia (bisa ditempuh dengan pesawat terbang, red). Meskipun itu penerbangan perintis. Apalagi disubsidi oleh pemerintah pusat (Kementerian Perhubungan RI),” ucap Wan, warga Tambelan.

Benar yang disampaikannya, tiket untuk penerbangan perintis Tanjungpinang – Tambelan, memang disubsidi oleh Kemenhub RI. Sebagaimana disampaikan Andi Hendra Suryaka, Kepala Bandara Dabo, Singkep, Kabupaten Lingga.

Andi, juga merangkap sebagai Koordinator Penerbangan Perintis Wilayah Kepri, Riau, Jambi, dan Bangka Belitung. Dengan terbukanya jalur udara ke Tambelan, roda ekonomi di sana diharapkan dapat berputar lebih cepat.

Baca Juga:

Sudah 7 Tahun Gunawan Setia Menunggu…

Bobby Jayanto Dipanggil Ulang oleh KPK

Dicemburui Istri karena Disebut Wartawan Muda

Pemilik Rumah, Ruko dan Kantor Diimbau Pasang Bendera Merah Putih

Jadi, tak hanya membangun Bandara perintis di Pulau Tambelan, pemerintah pusat melalui Kemenhub sekaligus menyediakan subsidi penerbangannya. Sehingga harga tiketnya nanti hanya sekitar Rp350 ribu per orang.

Penerbangan perintis reguler itu dilaksanakan dua kali seminggu, dari Tanjungpinang – Tambelan. Meski sudah murah, dan bersukur dengan terbukanya jalur udara ke Tambelan.

Berharap Tambahan Subsidi dari Pemkab Bintan

Namun, ada harapan agar harga tiket itu bisa lebih rendah. Hal ini disampaikan warga Tambelan di Pekanbaru, Fahrizal. Alasannya, agar semua lapisan masyarakat Tambelan bisa ikut menikmati hal luar biasa tersebut.

“Kita sangat mengapresiasi upaya Kemenhub itu, tapi kita harap harga tiketnya bisa lebih rendah. Solusinya tidak sulit, Pemkab Bintan bisa menganggarkan tambahan subsidi tiket itu,” sebut Fahrizal.

Mungkin, ujarnya lagi, subsidi dari Pemkab itu disertai syarat surat keterangan tidak mampu. Sehingga efektif dan tidak salah alamat.

Dia yakin hal itu bisa dilakukan, dan tidak melanggar aturan perundangan yang berlaku.

“Walau bagaimanapun, kita optimis adanya jalur udara bisa bikin Tambelan lebih cepat berkembang,” tukasnya.

Penerbangan perintis Tanjungpinang – Tambelan dijadwalkan terlaksana tahub 2020. Lama penerbangannya sekitar 1,5 jam dengan pesawat bermesin tunggal. Dan, dengan kapasitas 11 tempat duduk.

Saat ini, Kemenhub tengah melaksanakan finishing pembangunan Bandara Tambelan. Dijadwal, akhir tahun 2019 sudah finish. (mat)

Bagikan berita
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •