free page hit counter

Kompolnas: Polri Tidak Boleh Mau Dipecah Belah

Terkait Serangan Meme Negatif Terhadap Komjen Arief Sulistyanto

TANJUNGPINANG (suarasiber) – Irjen Pol (Purn) Bekto Suprapto Komisioner Polisi Nasional (Kompolnas), menilai serangan terhadap Komjen Arief Sulistyanto dalam bentuk meme sebagai hoax. Dan, tidak perlu ditanggapi.

“Kalau sudah diketahui hoax tidak perlu ditanggapi,” kata Bekto menjawab suarasiber.com, Rabu (14/8/2019).

Menjawab pertanyaan apakah meme itu untuk memecah belah Polri, Bekto, mengatakan, “Polri tidak boleh mau dipecah belah, laksanakan tugas saja secara profesional dan mandiri.”

hoax terhadap komjen arief 1
Irjen Pol (Purn) Bekto Suprapto Komisioner Polisi Nasional (Kompolnas). F-istimewa

Serangan terhadap mantan Kapolres Tanjungpinang ini, terus berlanjut hari ini di Jakarta melalui rencana aksi demo oleh sejumlah orang. Yang menuntut usut rekening gendut, yang ditudingkan ke Arief.

Penelusuran redaksi, saat isi rekening gendut mencuat sekitar tahun 2010, Arief menjabat Dirtipideksus. Dan, justru yang mengusut dugaan rekening gendut pada sejumlah perwira tinggi Polri itu. Nama Arief tidak ada di daftar pemilik rekening gendut itu.

Sebelum munculnya rencana aksi demo itu, Arief, sudah lebih dulu diserang dengan beberapa meme negatif. Di antaranya, meme yang menuduh mantan Asisten SDM Kapolri itu, sebagai otak di balik Indonesialeaks yang membongkar skandal buku merah.

Arief disebut kalah saing, dan sakit hati dengan Jenderal Tito, sebagai calon Kapolri tahun 2016. Sehingga dituding mengotaki Indonesialeaks.

Dari penelusuran redaksi, tahun 2016 itu, Arief masih berpangkat Brigjen Polisi dan menjabat asisten Kapolri Yang berarti nyaris mustahil dengan pangkat bintang satu, untuk menjadi calon Kapolri.

Tuduhan kalah saing yang disebut di meme itu tampak dipaksakan. Untuk membunuh karakter Arief Sulistyanto.

Hal itu tampak jelas, karena saat Tito dilantik jadi Kapolri, Arief sebagai staf ahli selalu mendampingi Tito di manapun, dan kapanpun. Hingga akhirnya Arief dilantik menjadi As SDM Kapolri.

hoax terhadap komjen arief 4
Foto – istimewa

Adapun riwayat kepangkatan Arief, sebagai berikut:

  • 27 Januari 2009 – 8 Juni 2010, Koorspirim Polri.
  • 8 Juni 2010 – 2 Mei 2014, Dirtipideksus Bareskrim Polri.
  • 2 Mei 2014 – 27 Mei 2016, Kapolda Kalbar.
  • 27 Mei 2016 – 3 Februari 2017, Staf Ahli Kapolri bidang Manajemen.

Di meme lainnya yang terkesan sengaja disebar untuk mendelegitimasinya, Arief dituding sebagai makelar kasus di Surabaya tahun 2009.

Arief dituding menerima ratusan miliar dari Gunadi Setioko, dan Winarto dari Sungai Budi Group di kasus lahan sepatu Cinderella. Redaksi menelusuri tuduhan itu, dan mendapat fakta bahwa pada tahun 2009 – 2010, Arief menjabat Koorspirim Polri.

Artinya, saat itu Arief jauh dari posisi, dan domain kasus serta kewenangannya terhadap kasus itu. Secara langsung atau tak langsung, Arief tak bisa mencampuri kasus yang ditangani Polda Jatim itu. Apalagi, menerima uang dari kasus tersebut.

Di meme lain yang menyerangnya, Arief dituding membeli rumah harga Rp10 miliar, hasil sitaan KPK tahun 2016 dan dilelang. Rumah yang dituduhkan itu, adalah rumah M Sanusi mantan anggota DPRD DKI Jakarta di Jalan Saidi I no 23A, Cipete, Jakarta.

Fakta yang redaksi ketahui, Arief sudah tinggal di Jalan Saidi I No 23 (bukan 23A) sejak tahun 2011. Jauh sebelum rumah di sebelahnya disita KPK tahun 2016, dan dilelang.

Meme ini terkesan kuat dibuat untuk menjatuhkan kredibilitas Arief. Yang kini menjabat Kalemdiklat Polri.

Dalam suatu perbincangan dengan redaksi, Arief mengatakan rumah itu sudah didaftarkan di LHKPN KPK.

Redaksi mengenal Arief Sulistyanto sejak menjabat Kapolres Tanjungpinang tahun 2005. Arief dikenal luas antisuap, dan karenanya oleh rekan-rekan wartawan pernah menjulukinya sebagai Kapolres paling miskin.

Arief juga selalu tegas terhadap anggotanya yang menyimpang. Dan, sangat dekat lapisan masyarakat luas tanpa membedakan strata sosial atau jabatan.

Sikapnya tetap tidak pernah berubah hingga mendapat bintang tiga di pundak. Redaksi merasakannya langsung saat bertemu dengan Arief, setelah berbintang tiga sebagai Kabareskrim.

Humble, dan sederhana. Bahkan, ruangan kerjanya sebagai Kabareskrim sangat sederhana. Jauh lebih sederhana dibanding ruang kerja kepala dinas di Provinsi Kepri.

Arief Sulistyanto, dikenal sebagai sosok yang tidak pernah berambisi mengejar jabatan. Bahkan dalam rekam jejak perjalanan karirnya, sejak perwira pertama hingga jadi jenderal bintang satu, Arief beberapa kali menjabat. Karena ditunjuk! Untuk menggantikan pejabat yang dicopot.

Saat menjabat Asisten SDM Kapolri, Arief dikenal luas dengan gebrakan rekrutmen calon anggota Polri, yang clean and clear.

Tidak ada lagi beda anak jenderal dengan anak sopir angkot. Semua diperlakukan sama saat seleksi masuk dari tingkat terendah hingga ke Akpol.

hoax terhadap komjen arief 2
Foto – istimewa

Sebuah gebrakan yang muaranya menghasilkan anggota Polri berkualitas. Dan, merupakan perwujudan dari visi Kapolri.

Dalam suatu perbincangan dengan suarasiber.com di kantornya saat itu di Bareskrim Jakarta, Arief, menegaskan akan selalu setia, dan loyal kepada atasan serta bersikap ksatria.

Alasannya, karena dia adalah seorang bhayangkara sejati yang teguh memegang sumpah dan amanah jabatan. Sebuah sikap lugas, dan tegas.

Saat ini Arief sulit dihubungi, ponselnya beberapa kali dihubungi tapi tidak pernah aktif. Pesan WhatsApp yang dikirimkan juga tidak terkirim.

Sepengetahhan redaksi, Arief, sudah beberapa kali diserang fitnah, dan bersikap diam. Akankah serangan melalui meme kali ini tetap disikapi dengan diam atau sebaliknya? Hanya waktu yang akan membuktikannya nanti. (mat)

Bagikan berita
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •