free page hit counter

Polda Kepri Imbau Masyarakat Waspada Cacar Monyet

TANJUNGPINANG (suarasiber) – Polda Kepri mengeluarkan imbauan kepada masyarakat agar mewaspadai cacar monyet yang sedang hangat-hangatnya di Singapura. Berikut beberapa hal yang diharapkan bisa membantu masyarakat memahami cacar ini.

Heboh penyakit ini ketika 28 April 2019 lalu, seorang WN Nigeria berusia 38 tahun teridentifikasi kena cacar monyet saat baru tiba di Singapura. Penyakit langka ini disebabkan virus, menular ke manusia melalui hewan.

Sebagai daerah yang berdekatan dengan Singapura, warga Kepri harus siap dan sigap mengantisipasinya

Melihat ke belakang, info awal monkeypox atau cacar monyet kali pertama diidentifikasi 1970 di Republik Demokratik Kongo. Sejak tahun 1970, monkeypox terjadi pada 10 negara Afrika. yaitu Republik Demokratik Kongo, Rep Kongo, Kamerun, Rep Afrika Tengah, Nigeria, Pantai Gading, Liberia, Sierra Leone, Gabon dan Sudan Selatan.

Pada 2003, ditemukan kasus di Amerika, lalu dua kasus di Inggris dan satu kasus di Israel.

Penularan cacar monyet terjadi akibat kontak langsung dgn darah, cairan tubuh, atau lesi kulit atau mukosa pada hewan yg terinfeksi (kera, tikus dan tupai).

Selain itu, makan daging hewan terinfeksi (masak tidak matang) juga faktor risiko terkena virus.

Penularan sekunder dari manusia ke manusia, akibat kontak langsung dengan lendir dari saluran pernapasan orang yang terinfeksi. Lesi kulit orang yang terinfeksi/benda yang terkontaminasi cairan yang dari tubuh pasien atau dari lesi.

Baca Juga:

Puluhan Punker, Loper dan Gepeng di Batam Ditertibkan

KM Bukit Raya Diperbaiki, Calon Pemudik Panik

Tanjungpinang Masuk Gerakan 100 Smart City

Ombudsman RI: Tak Suka Risiko Itu Masalah

Penularan melalui partikel pernapasan, butuh kontak tatap muka berkepanjangan. Sehingga anggota rumah tangga org terinfeksi berisiko terkena lebih besar.

Masa inkubasi cacar monyet (interval infeksi s/d timbul gejala) 5 sampai 21 hari.

Infeksi terbagi dua periode:

  • Periode invasi (0-5 hari) ditandai demam, sakit kepala hebat, limfadenopati (pembengkakan kelenjar getah bening), nyeri punggung, mialgia (nyeri otot) dan asthenia yang intens (kekurangan energi)
  • Periode erupsi kulit ( 1-3 hari setelah muncul demam) berbagai ruam muncul, mulai wajah menyebar ke bagian tubuh.

Selanjutnya wajah (95% kasus), dan telapak tangan dan telapak kaki (75% kasus) paling terpengaruh.

Evolusi ruam maculopapules (lesi dg basis datar) ke vesikel (lepuh isi cairan kecil), pustula, diikuti kerak terjadi sekitar 10 hari.

Mungkin perlu waktu tiga minggu sebelum semua itu lenyap dari kulit.

Pencegahan agar tidak tertular cacar monyet:

  • Hindari kontak dengan tikus dan primata terinfeksi, serta batasi paparan langsung terhadap darah dan daging yang tidak dimasak dengan baik.
  • Batasi kontak fisik dengan orang terinfeksi atau hindari bahan terkontaminasi.
  • Pakai sarung tangan dan pakaian pelindung saat merawat orang sakit atau tangani hewan yang terinfeksi.
  • Terapkan perilaku hidup bersih dan sehat.

Tidak ada perawatan khusus atau vaksin untuk cacar monyet. Wabah cacar monyet sejauh ini masih dapat dikendalikan. Vaksinasi cacar terbukti 85 persen efektif mencegah cacar monyet di masa lalu.

Penyakit cacar monyet biasanya sembuh sendiri pada 14 sampai 21 hari. Kasus parah terjadi lebih sering pada anak-anak dan terkait dengan tingkat paparan virus, status kesehatan dan tingkat keparahan komplikasi pasien.

Untuk kasus kematian terjadi bervariasi, infonya 10% kasus sebagian besar anak-anak. Demikian dirilis oleh Kabidhumas Polda Kepri, Kombes Erlangga. (mat)

Bagikan berita
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •