free page hit counter

Ketika Bupati Lingga Menjadi Sopir dan Tidur di Lantai

“Bang, saya dan teman-teman akan melanjutkan agenda di Pulau Singkep dalam dua minggu ke depan. Bersama kami, seorang produser salah satu stasiun TV nasional untuk meliput agenda tersebut. Abang akan diwawancarai sebagai salah satu narasumber dan karena itu abang harus berada di tempat dan dapat meluangkan waktu. Detail kegiatannya akan saya kirimkan setelah ini,”

Inilah penggalan kalimat saya waktu menelpon Alias Wello, Bupati Lingga, Kepulauan Riau pada minggu ke-2 Juli 2018. Penekanan harus saya berikan pada kalimat “Abang harus berada di tempat dan dapat meluangkan waktu”.

Tanpa berniat menimbulkan kesan memberi perintah, sesungguhnya ini adalah kalimat yang sangat penting mengingat kesibukan beliau sebagai kepala daerah yang luar biasa.

Kisah menjadi bupati di daerah kepulauan memang menjadi tantangan sendiri, apalagi bagi daerah yang sedang berjuang lepas dari permasalahan defisit anggaran selama bertahun-tahun sekaligus harus memastikan negara hadir dalam setiap kehidupan masyarakatnya, hingga di pelosok terjauh bumi nusantara.

Beberapa kali saya menyaksikan sendiri beliau masih melayani masyarakat sampai dini hari, sementara beberapa jam setelahnya harus berangkat mengarungi lautan dalam gelapnya malam dan cuaca dingin yang menembus hingga ke tulang.

Seminggu kemudian, tanpa konfirmasi lagi, saya dan tim berangkat dari Jakarta menuju Tanjungpinang dan selanjutnya terbang dengan pesawat Susi Air menuju Dabo Singkep.

Sekitar pukul 22.00 malam, ketika kami sudah bersiap – siap untuk istirahat, Bang AWe mengajak saya ke Daik, ibu kota Kabupaten Lingga yang berada di pulau sebelah. Saya yang menyetir mobil dan beliau duduk di samping, dengan sesekali tertidur karena kelelahan.

Supir yang biasa mengantarnya memang sedang ditugaskan untuk mengantar serombongan tamu, calon investor yang sedang dibujuk untuk berinvestasi di Kabupaten Lingga. Setelah sekitar 30 menit perjalanan, sampailah kami di pelabuhan Jagoh, tempat Lingga Terbilang, speedboat beliau yang selalu siaga, menantikan kami.

Dalam kondisi gelapnya malam, kami menyeberangi laut menuju ke Pulau Lingga. Setelah sekitar 20 menit, kami pun mendarat di Penarik, pelabuhan kecil di sisi barat pulau, tempat mobil dinas yang juga sudah menanti untuk mengantar langsung menuju ke Gedung Daerah, kediaman Bupati Lingga di Daik.

Baca Juga:

Pegawai Pemkab Anambas Ini Kembangkan Pupuk Organik di Jemaja Timur

Ketua RW di Sebong Lagoi Ajak Warga Singapura Tanam Bibit Mangrove

Sesampai di sana, tampak jajaran aparatur Pemerintah Kabupaten Lingga sudah menanti untuk melaksanakan rapat rutin pelaksanaan program-program pemerintah. Lewat pukul 23.00 malam ketika rapat baru dimulai hingga berakhir sekitar pukul 01.00 dini hari.

Sebagai orang luar, saya tidak mengikuti betul jalannya rapat itu. Hanya sesekali mendengarkan topik yang dibahas oleh mereka. Tanpa terasa, saya tertidur di sofa tamu yang tersedia di gedung daerah.

Satu jam setelah rapat selesai, kami langsung kembali lagi ke Dabo Singkep dengan rute perjalanan laut dari pelabuhan Penarik menuju pelabuhan Jagoh. Setumpuk agenda besok pagi tentu saja sudah menanti.

Ia masih harus mengantarkan para calon investor perkebunan buah-buahan untuk meninjau lahan-lahan potensial dan mengikuti wawancara salah satu stasiun TV nasional tentang dampak pertambangan timah masa lalu di Pulau Singkep.

Mungkin karena melihat saya sudah sangat lelah dan mengantuk, maka beliau memutuskan untuk menyetir sendiri dari pelabuhan Jagoh menuju Dabo Singkep, sementara saya dibiarkan istirahat.

Sepanjang perjalanan, saya sebenarnya sedang menyusun rencana, mencari-cari tempat untuk menyandarkan bahu, meluruskan pundak, dan syukur kalau bisa terlelap ketika nanti sampai di Dabo Singkep.

Hal ini karena kondisi di Gedung Daerah di Dabo Singkep, rumah dinas bupati di pulau itu sedang penuh sesak. Gubernur Kepulauan Riau dan rombongan pejabat teras dalam lingkup pemerintahan provinsi Kepulauan Riau sedang di sana dalam rangka peresmian Pekan Olah Raga Pelajar Daerah (POPDA). Termasuk dalam rombongan itu adalah komandan dan beberapa perwira dari instusi militer.

Rekan-rekan saya pun yang awalnya menggunakan 4 kamar di gedung itu terpaksa harus mengungsi semuanya, ke kamar yang biasanya digunakan oleh penjaga. Sebagian memutuskan untuk tetap terjaga di teras belakang sambil menahan kantuk, walaupun saya tidak yakin mereka bisa bertahan mengingat penuhnya aktifitas kami seharian tadi.

Sementara hotel yang tidak seberapa jumlahnya semuanya juga penuh oleh rombongan atlit dan para official. Guest houses dan kamar-kamar yang biasanya disewakan semuanya penuh, tidak tersisa lagi.

Sekitar pukul 03.30 pagi, kami sampai di Gedung Daerah di Dabo Singkep. Saat mata saya sementara bergerak liar, mencari-cari ruangan untuk istirahat, beliau dengan tegas memanggil dan mengajak ke kamarnya, satu-satunya kamar yang tersisa pada malam itu.

Sebagai orang yang sering bepergian, berbagi kamar dengan siapa saja bagi saya sudah lumrah terjadi, terlebih lagi dalam kondisi darurat seperti saat itu. Tapi kali ini tentu saja berbeda, karena kamar itu hanya diperuntukkan untuk seorang bupati, sebagai kamar dinas.

Dengan pikiran sedikit terkejut dan perasaan agak segan, saya tidak punya pilihan selain ikut masuk ke kamar yang tidak begitu luas itu. Setelah meletakkan tas, saya kemudian membersihkan badan sebelum istirahat, sembari memantapkan niat untuk nantinya menggeletakkan badan saja di salah satu sudut kamar nantinya.

Kejutan berikutnya datang lagi. Setelah saya keluar dari kamar mandi, beliau sudah berbaring tengkurap di lantai pada sudut yang telah saya incar tadi. Tanpa sedikit pun menoleh, beliau meminta saya untuk tidur di atas, di ranjang empuk itu, sementara beliau akan tidur di lantai saja. Tempat tidur memang hanya satu buah saja di kamar itu, berukuran sedang.

Selama beberapa detik kemudian saya terdiam, memastikan kembali bahwa saya tidak salah dengar. Tapi pemandangan beliau sudah menggeletakkan badan di lantai dengan sangat nyaman mengkonfirmasi kebenaran pendengaran saya itu.

Alih-alih beristirahat, saya menjadi tidak bisa tidur subuh itu. Saya, seorang anak muda yang bukan siapa-siapa, diperlakukan dengan sangat terhormat oleh beliau. Ada perasaan tidak ikhlas untuk tidur di kasur empuk sementara sang pemimpin, pemilik tempat tidur itu, berbaring di lantai, tepat di sebelahnya.

Saya tidak melihat sedikit pun ada kesan basa-basi di kalimat beliau, itu adalah sebuah kalimat perintah. Saya juga tahu betul bahwa saya tidak dalam posisi dapat membantah atau menawar karena saya yakin keputusan itu sudah dibuat sebelum kami sampai tadi, saat beliau masih nyetir mobil dari pelabuhan Jagoh, saat saya masih termenung dalam kesunyian.

Begitulah sosok Alias Wello yang saya kenal. Bang Awe, begitu saya dan teman-teman memanggilnya adalah sosok pribadi sederhana, manusia biasa yang tidak mengenal basa basi. Seorang anak manusia yang egaliter dan secara konsisten memangkas karakter feodalistik yang masih menjadi penyakit banyak pemimpin di negara kita hingga hari ini.

Seorang bupati yang lebih mengutamakan pelayanan langsung dan terus memotong alur birokrasi serta protokoler yang membuat elit dan publik semakin berjarak. Seorang yang dengan tulus memikirkan orang lain, bahkan jauh sebelum orang itu menyadari bahwa mereka sedang dilayani.

Seorang pemimpin yang mulai bekerja sebelum orang-orang terbangun, dan baru mengakhiri setelah rakyatnya sudah terlelap.

Sekitar pukul 08.00 pagi, kami sudah berdiskusi lagi di ruang makan bersama beberapa teman yang juga masih terlihat mengantuk, namun sangat bersemangat karena diberi kesempatan sarapan bersama dengan sang Bupati.

Sambil menikmati sarapan nasi dagang khas Dabo Singkep, kami menyepakati agenda hari itu, lalu melaksanakan tugas masing-masing. Bersama-sama melayani masyarakat, tanpa mereka harus tahu bagaimana kami melakukannya. Seperti yang bang AWe selalu contohkan.

Ternyata, Bang AWe yang diceritakan banyak orang tentang kesederhanaannya dan saya temui pertama kali di salah satu kedai kopi di pinggir jalan di Tanjungpinang sekitar 3 bulan setelah dilantik sebagai Bupati Lingga pada tanggal 17 Februari 2016, tak ada berubah sedikit pun.

Saya kebetulan mengenal Bang AWe dari seorang teman di Tanjungpinang. Sore itu, saya baru saja tiba di Tanjungpinang dari Yogyakarta untuk sebuah urusan. Saya dijemput dan diajak makan malam oleh teman saya tadi.

Ia lalu bercerita bahwa salah seorang sahabatnya baru saja dilantik menjadi bupati di sebuah kabupaten bernama Lingga, masih di Kepulauan Riau juga.

Ia lalu mengajak saya ketemu dan ngobrol dengan sang bupati malam itu juga sekiranya saya berminat. Sebagai penikmat silaturrahmi, saya selalu antusias dengan segelas dua gelas kopi atau teh panas di malam hari.

Namun sejujurnya, saya agak kurang yakin dengan tawaran ini, mengingat kami belum ada janjian sama sekali. Dan lebih tidak yakin lagi setelah tempat pertemuan yang disetujui adalah sebuah warung kopi yang sangat sederhana di tepi jalan. Di tempat itu, sudah ada beberapa orang lain yang menunggu sambil bercakap-cakap.

Saya semakin tidak yakin ketika yang datang kemudian adalah seorang bapak setengah baya dengan mengendarai sepeda motor. Tidak ada kesan formal dalam penampilannya.

Beberapa hari setelah pertemuan itu, si teman menelpon saya dan memberi tahu bahwa pak Bupati ngajak ke Lingga untuk melihat dari dekat tentang Lingga, bumi “Bunda Tanah Melayu” itu.

Itulah awal pertemuan saya dengan bapak Alias Wello, Bupati Lingga, sebuah kabupaten di ujung selatan provinsi Kepulauan Riau. Kabupaten dengan 604 pulau yang merupakan berkah sekaligus tantangan bagi penduduk dan pemimpinnya.

Oleh Rezki Syahrir
Ditulis dari salah satu desa di pelosok Inggris Raya, 24 Februari 2019.

Bagikan berita
  • 345
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Translate »