free page hit counter

Gubernur Kepri, Kami Sematkan Pin Emas Ini di Dadamu

Suatu kali, mungkin satu atau dua tahun lalu, Ketua PWI Kepri, Ramon Damora, menemui saya. “Lapor Ketum,” katanya, “Gubernur kami sepertinya kurang bergairah dengan pers. Beramal ya beramal saja. Kalau terlalu dibebani harus ekspose sana-sini, jadinya riya nanti. Begitu prinsip Pak Gubernur itu kurang lebih.”

Saya tersenyum lalu balik bertanya. “Menurut Anda sendiri, sikap ini keliru?” Jelas keliru, sahut Ramon langsung. Ramon ini suaranya selalu lantang. Kadang membingungkan, anak muda Melayu yang selalu vokal ini sedang curhat atau deklamasi puisi. Tapi demi menetralisir kegundahannya, saya coba tawarkan beberapa sudut pandang.

Saya katakan, kalau saya jadi Anda, saya bangga punya kepala daerah seperti Kepri. Mentalnya mutiara. Saat semua pejabat berlomba-lomba pamer selfie, gubernur Anda tak ikut hanyut di arus lumpur pencitraan. Saran saya, jaga dia.

[irp posts=”7433″ name=”Gabung PWI Tanjungpinang – Bintan? Wajib Lulus Uji Kompetensi”]

[irp posts=”10342″ name=”Selasa, Konferwil PWI Pinang-Bintan Digelar”]

Jangan pula lupakan, muhasabah diri. Verifikasi seorang jurnalis sejati harus bermula dari kesungguhannya menginstrospeksi diri. Jangan-jangan, Gubernur Kepri, Pak Nurdin Basirun, sesungguhnya sangat ingin bermitra dengan pewarta, tapi Anda dkk belum meyakinkan di matanya bisa diandalkan sebagai sahabat yang sinergis-strategis untuk membangun Kepri bersama-sama.

Sudahlah, adikku Ramon Damora dan rekan-rekan pers Kepulauan Riau yang saya sayangi. Tak usah galau. Tatap saja jalan di depan. Tutup cerita lampau. Kalau diizinkan, saya ingin wakili Anda semua untuk menunjukkan iktikad pertemanan, persaudaraan, yang sungguh-sungguh kepada Bapak Gubernur.

Kita di PWI punya tradisi Pin Emas. Simbol sederhana tapi penuh makna yang disematkan ke bidang dada paling kanan baju kebesaran seseorang. Inilah simbol uluran tangan silaturahmi hakiki. Pers tak bisa menawarkan yang lebih dari selain ketulusan. Gubernur salah, pers akan tegur dan kontrol. Sebaliknya, bila gubernur berprestasi, pers wajib mengapresiasinya secara jujur.

Selebihnya, urusan waktu. Bila di kemudian hari Pak Gubernur kelihatannya berbahagia hati memiliki Pin Emas itu di dadanya, mohon dicatat. Siapapun yang dalam kesehariannya menunjukkan kebanggaan-kehangatan berkawan dengan wartawan, dengan segala dimensinya, teramat pantas mendapat hormat. Inilah kelak yang akan menjadi rekam-jejak bagi bersangkutan untuk meraih award yang lebih prestisius lagi dari tradisi panjang PWI: Anugerah Pena Emas.

Sampaikan salam hormat saya buat beliau. Gubernur Kepri Nurdin Basirun. Mohon maaf saya urung hadir menghangatkan jamuan Konferwil PWI Pinang-Bintan. Karena diamanahkan untuk fokus dulu mempersiapkan Kongres Nasional PWI di Solo tanggal 28 September mendatang.

Kabarnya, di Solo nanti, saya dan Bung Ramon ditandemkan satu panggung. Saya men-dalang. Ramon baca puisi. Tentu akan lebih indah kalau di panggung yang sama, Bapak Gubernur bersedia menerima ikatan Pin Emas secara resmi dari kami. Insyaallah.

Selamat berkongres. Nalar dan jiwa besar. Hanya itu yang membuat musyawarah lancar. Merdeka!

Ketua Umum PWI Pusat

Margiono

Bagikan berita
  • 17
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •